Tomorrow She is Never Again Four Years Old (Not Even One Dot)

jen groeber: mama art

I look at the clock and it’s 11:34 pm. I picture my newly minted five-year-old, asleep in her bed, covered with the Hello Kitty blanket I stayed up until past midnight last night to make, her hands curled under her ear, like the fiddlehead ferns she begged me to buy in the grocery store last week. I wonder, does she know that she has twenty-six minutes (now twenty) left of being in the in-between?

Because on her birthday this morning, she began as a four-year-old. And four-year-olds are young. They’re like babies. They go to pre-school. They say things like, “I liked it, but only one dot,” and everyone nods in wonderment. They are allowed to lisp. They always get right of way, whether on a bike or in a pool or playing Skipbo. Because they’re just four. And everyone else, at least everyone else in my house…

Lihat pos aslinya 655 kata lagi

Iklan

Confessions from a Cul-de-Sac.

At the Helm of the Public Realm: An Urban Design Blog

My very own cul-de-sac. My very own cul-de-sac.

Three months ago my family and I moved into our first home. Something about buying a house makes you feel like a real bonafide adult. And with that comes real adult decisions. We moved to Charlotte from Tampa in January and when my husband and I were deciding where in the city we wanted to live, we like many young families, fell into the trap that is holding back so many of our cities: providing our child with a good education.

Like so many other cities in America, in Charlotte you can find the public schools with the highest test scores in the suburbs. Decades and decades of socio-economic trends, not to mention racism and segregation, are the major cause of this divide – in fact, that could be a blog post all on its own. Of course many will tell you test scores…

Lihat pos aslinya 1.359 kata lagi

Macam- Macam Jenis Kamera

Sangat penting 🙂

Devi Aurora

Saat ini kamera dapat dikelompokkan menjadi kamera analog dan kamera digital. Kamera analog mengambil gambar dari cahaya yang ditangkap lensa, kemudian menyimpan hasilnya pada negative film. Pada kamera digital terdapat sensor penangkap gambar CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide) lebih dari jutaan pixel (picture element). Sensor tersebut adalah suatu chip yang terletak tepat dibelakang lensa. Semakin banyak jumlah pixel pada sensor, maka gambar yang dihasilkan akan semakin detail.
Sensor yang banyak dipakai oleh produsen berupa semikonduktor dengan nama CCD (charged-couple device semiconductor) dan CMOS (complementary metal-oxide semiconductor). Kualitas maupun ukuran dari sensor ini salah satu dari faktor penting yang mempengaruhi kualitas dari gambar yang akan dihasilkan. Media penyimpanan data digital gambar pada kamera digital terpisah dengan media penangkap cahaya. Media penyimpanannya biasa disebut memori memiliki berbagai macam jenis bergantung dari produsen pembuat kamera. Media penyimpan yang umum digunakan adalah tipe-tipe Compact Flash(CF), Secure Digital(SD), Multi Media Card…

Lihat pos aslinya 630 kata lagi

Adegan di film yang ga perlu di tiru

Gak Pernah Megang Tapi Sekali Pake Langsung Jago

Wah, apa nih maksudnya? Jangan ngeres dulu ah. Ini sering banget kejadian dalam film, dimana orang biasa yang gak ahli dalam hal tertentu tiba-tiba bisa jadi sangat paham dan lihai sampai akhirnya jadi penyelamat. Misalnya, dalam adegan pembajakan pesawat dimana sang pilot cidera dan co pilot pun cidera, tiba-tiba sang jagoan yang gak pernah tau apa-apa soal nyetir pesawat bisa mendaratkan pesawat dengan sempurna. Trus juga ada adegan baku tembak, seseorang karakter biasa banget, penakut, dan gak pernah megang senjata tiba-tiba ambil senjata yang terjatuh dan langsung bisa tepat menembak sasaran. Lantas kenapa hal ini bisa terjadi ya? Yah, namanya juga film!

Mungkin kalian gak tau 

The Dark Knight Rises

Banyak yang gak tahu kalau ternyata Christopher Nolan menggunakan aktor Indonesia untuk berperan filmnya. Pria ini menjadi extras untuk salah satu scene yang melibatkan orang banyak. Gak tahu kamu kan? Christopher Nolan-nya sendiri juga kemungkinan gak tahu dia ada di film itu juga sih. 401014_339571902720702_719068528_n

Ya ampun Mr. Nolan, masa kamu gak tau ada orang Indonesia yang bantuin film kamu? Shame on you, Mr. Nolan. Shame on you!! Tapi sementara itu, kita sebagai orang Indonesia harus bangga!

Hal yang bikin indonesia gak maju 

Kemajuan suatu negara jelas tergambar dari karakter orang-orangnya. Nah kalau kamu selama ini bingung kenapa Indonesia gak maju-maju padahal hampir 70 tahun merdeka, maka kamu bisa bercermin sama orang-orang Indonesianya aja.

Percaya Mistis

Indonesia emang gak bisa dipisahkan sama hal-hal mistis. Gak heran makanya kalau semua kejadian itu selalu dikaitkan dengan mistis walaupun udah ada penjelasan logis dan ilmiahnya. Nah sampai sekarang, kepercayaan sama mistis ini masih terus berkambang dan gak ada tanda-tanda akan surut, dan kayaknya gak bakal surut sih. Disaat orang-orang udah sibuk nyari tempat tinggal baru buat penduduk bumi, orang Indonesia masih aja asyik ngomongin mistis. Ada bencana, dikatikan dengan mistis. Artis sakit, dikaitkan dengan mistis, mau nikah, dikaitkan dengan mistis sampai milih pemimpin pun masih dikaitkan sama mistis. Duh, gimana mau maju coba!

{source name=“Kalau ini bukan mistis tapi miss universe. Aaaak” url=“http://livemint.com"}

Kalau ini bukan mistis tapi miss universe. Aaaak vialivemint.com

Malas

Malas adalah sumber kehancuran. Kalau kamu malas, jangan harap kamu bisa mencapai apa yang kamu mau. Kamu suka sama seseorang, tapi kamu malas buat melakukan penjajakan? Yang ada orang tersebut keburu disamber orang lain. Nah sayangnya sifat malas ini masih banyak dianut sama kebanyakan orang Indonesia. Dikasih tulisan panjang lebar, malas baca. Disuruh pergi ke minimarket depan rumah yang jaraknya gak ada semeter milih naik motor, malas buat jalan kaki, padahal jalan kaki bikin sehat. Disuruh bikin poster film yang bagus, males buat mikir, akhirnya jiplak yang udah ada aja. Disuruh sekolah, males, malah nongkrong di rental PS atau ikutan jadi talent di acara musik pagi-pagi. Diajak rapat buat mikirin negara, malas, mendingan tidur aja. Duh, gimana mau maju coba!

{source name=“Semoga anggota DPR yang baru gak kayak gini” url=“http://gagasanriau.com"}

Semoga anggota DPR yang baru gak kayak gini viagagasanriau.com

Gak Disiplin

Jangan ngomongin disiplin deh sama orang Indonesia, malu! Bukan, bukan karena pada disiplin semua, tapi malah kebalikannya. Kenapa coba ada istilah jam karet di Indonesia? Ya karena emang gak disiplin waktu. Trus yang disalahin kemacetan. Puk puk macet, jangan sedih ya. Disiplin itu seperti sebuah ujian yang sangat berat buat orang Indonesia. Saking beratnya mereka gak sanggup buat ngejalanin, lantas menyerah. Antri? Gak sanggup ah, nyelak aja. Berenti pas lampu merah? Gak sanggup ah, terobos aja. Nyebrang jalan lewat tangga? Gak sanggup ah, lewat bawah aja, palingan ketabrak, daripada capek. Buang sampah pada tempatnya? Gak sanggup ah, buang dimana aja, nanti juga ada yang sapuin atau ketiup angin. Duh, gimana mau maju coba!

Instan

Nah ini dia nih orang Indonesia banget, sukanya yang instan-instan. Mau jadi kaya,pengennya cepet dan gak usah banyak usaha, makanya orang Indonesia gampang banget ditipu sms menang undian. Mau terkenal juga secara instan nan cepat, hasilnya adalah banyaknya berita infotainment yang gak penting seputar kehidupan pribadi artis. Mau makan karena kelaperan, bikinnya mie instan, ya walaupun enak tapi punya efek yang kurang bagus kalau dimakan 3 kali sehari. Mau jadi sutradara film juga pengennya instan, cuma ikutan magang 2 kali, bisa langsung bikin film. Kalau prosesnya kayak gini, ya gak heran mutu film Indonesia masih kurang kece. Duh, gimana mau maju coba!

Screen Shot 2015-01-08 at 4

Mudah Terpengaruh

Bukan orang Indonesia kalau gak ikutan apa yang sedang jadi trend. Kamu pasti masih ingetkan gimana sepeda fixie sebegitu digila-gilainya, sampai orang-orang rela ngeluarin uang jutaan rupiah demi naik sepeda yang gak ada remnya tersebut. Sekarang? Mereka udah gak naik fixie lagi,karena mereka lagi seneng lari pagi, siang, sore, malam, tengah malam, dalam kondisi seekstrim apapun demi sebuah eksistensi. Singkatya, orang Indonesia itu emang mudah terpengaruh, suka ikut-ikutan nan latahan gitu deh. Liat di sosial media lagi rame martabak nutella, langsung pengen. Liat orang pada nongkrong di Pasar Santa, langsung pengen ikutan nongkrong. Lagi rame orang pake cincin batu giok, langsung pengen ikutan pake. Padahal make cincin batu giok gak ada keren-kerennya. Duh, gimana mau maju coba!

Miskin Tapi Konsumtif

Setuju dong kalau kemiskinan di Indonesia itu masih tinggi. Nah menariknya, walaupun miskin tapi Indonesia itu termasuk negara yang paling konsumtif lho. Ini jelas kasihan lagi menghawatirkan. Gimana mungkin coba kamu gak punya uang, tapi masih bisa belanja ini itu, bahkan sampe ngelebihi pendapatan. Tenang, kita tinggal di negara Indonesia, dimana segala sesuatunya mungkin terjadi. Gak punya duit karena miskin? Kan bisa minjem dulu, abis itu bisa buat beli motor baru deh. Ada smartphone seri terbaru tapi gak punya duit? Gampang, kredit aja, paling 6 bulan doang kok makan promagnya. Harga BBM naik, protes, katanya pemerintah gak peduli sama rakyat miskin, tapi anterin makanan ke rumah tetangga yang beda satu gang doang pake naik motor. Harusnya sih kalau emang tau dirinya miskin, ya mawas diri aja. Jangan lantas belaga jadi orang kaya, dan rajin belanja. Duh, gimana mau maju coba!

Sekarang udah ngerti kan kenapa orang Indonesia itu gak maju? Makanya mulai sekarang yuk kira bersama-sama bercermin dan berbenah diri. Udah tahun tahun 2015, kita harus berubah jadi lebih baik. Sama-sama kita bangun negara ini. Bukan buat siapa-siapa kok, buat kita juga, dan tentunya anak cucu kita nanti kelak. Ceilee!

PHOTOGRAPHY

Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.

Bagi yang ingin “lulus dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif  kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkann konsep eskposur secara mudah.

Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera. 

long eksposureKetiga elemen tersebut adalah:

  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka

Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Eksposur

Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air.

  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
  • Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran.
  • ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera.

Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya. Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya.